RSS

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Methmoglobinemia

Merry Wahyuningsih - detikHealth


img
Keluarga Martin Fugate (readvivek)
Kentucky, Kulit manusia umumnya berwarna kuning langsat, coklat atau gelap. Tapi satu keluarga di Kentucky memiliki kulit berwarna biru karena kelainan darah yang disebut methemoglobinemia, sehingga mendapat julukan 'Blue People of Kentucky'.

National Institutes of Health melaporkan tidak ada data atau berapa banyak orang yang mengalami methemoglobinemia, tetapi insiden paling terkenal adalah Blue People of Kentucky dan keluarga Lurgan dari Irlandia.

Seperti dilansir dari Ehow, Selasa (15/6/2010), sebenarnya julukan 'Blue People of Kentucky' berasal dari keluarga Fugate yang tinggal di Hazard, Kentucky.

Selama tahun 1800-an, Martin Fugate yang sudah berkulit biru menikah dengan anggota keluarga Smith yang juga membawa gen resesif. Hal ini menyebabkan keluarga Smith menjadi pembawa gen methemoglobinemia dan menurunkan kelainan darah ini pada keturunan-keturunan berikutnya.

Keluarga Fugate dan Smith tinggal di daerah tersebut dan terus menghasilkan anak-anak dan keturunan selanjutnya berkulit biru. Dari dokumentasi terakhir, kasus ini terjadi hingga tahun 1970-an.

'Blue People of Kentucky' pertama kali didiagnosis dengan methemoglobinemia pada tahun 1960 oleh seorang hematologis, Dr Madison Cawein.

Menurut dongeng rakyat, kulit biru yang dialami Fugate terjadi karena penyakit jantung atau masalah paru-paru. Namun, pemeriksaan Dr Cawein menemukan keturunan Martin Fugate dalam kesehatan yang baik, dan ia mencurigai bentuk methmoglobinemia turunan.

Menurut hasil penelitian Dr Scott dalam Journal of Clinical Investigation, yang meneliti methmoglobinemia Eskimo di Alaska, methmoglobinemia terjadi karena hilangnya enzim dalam sel darah merah.

Ketiadaan enzim penting yang disebut diaphorase ini, memungkinkan komponen sel darah merah terdeoksigenasi (proses pengurangan oksigen terlarut) untuk membangun di dalam tubuh, sehingga memberikan balutan warna biru yang tampak jelas pada permukaan kulit.

Methmoglobinemia dalam kasus Fugates adalah genetik, berasal dari gen resesif kedua orangtua, sehingga menyebabkan kekacauan pada keturunannya. Selain genetik, methmoglobinemia juga dapat disebabkan karena paparan bahan kimia, antibiotik dan anestesi.

Gejala methmoglobinemia dapat berupa kulit biru, sesak nafas, kelelahan, pusing, dan pingsan. Kasus-kasus ekstrim lainnya dapat menyebabkan aritmia jantung, kejang, koma bahkan kematian. Namun, 'Blue People of Kentucky' dapat bertahan hidup lama dan sehat.

Menurut Dr Cawein, methmoglobenemia dapat diobati dengan metilen biru, yang membuat tubuh mengimbangi kekurangan diaphorase. Obat ini akan dibuang melalui urine, sehingga obat metilen biru diperlukan setiap hari untuk mempertahankan warna kulit normal
(mer/up)


sumber: health.detik.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

First Post-About Me

Saya diberi nama Indira Hapsarini beberapa hari setelah saya lahir, 4 November 1995, yaitu tiga setengah tahun setelah kelahiran anak pertama dari Ibu Yusnita dan Bapak Dwi Hapsoro, Aby Hapsari.
Nama Indira diambil dari nama tokoh permpuan Indira Gandhi, sedangkan Hapsari dari Hapsarini memiliki arti 'dewa perempuan' dalam bahasa jawa.


ke-simpel-an nama saya setelah kedua orang tua saya memutar otak beberapa hari tersebut memiliki alasan tersendiri.

selama saya masih berada dalam kandungan, ibu saya tidak ingin mengetahui lebih dulu apakah saya perempuan atau laki-laki sebelum saya lahir dengan jalan USG. alasannya, "Biar surprise, gitu..."
merasakan sakit karena saya yang dengan hiperaktif menendang-nendang dari dalam kandungan, ayah dan ibu saya dengan sepihak menyimpulkan bahwa saya laki-laki (tanpa meminta persetujuan saya! astagaaa...) -__-'


lalu apakah dampaknya bagi nama saya yang indah simpel itu?
Ternyata oleh karena asumsi sepihak itu, kedua orang tua saya dengan riang gembira menyiapkan banyak nama anak laki-laki yang indah-indah dan sarat makna.


saat saya lahir dini hari tanggal 4 November 15 tahun lalu, kedua orang tua saya menjadi bingung menentukan nama untuk bayi perempuan dengan berat 3,6 kg itu.
dan... yah, seperti yang sudah saya ceritakan, nama Indira Hapsarini itu tercipta dari pemikiran ibu saya.


saya tumbuh menjadi seorang anak yang terlalu aktif sering bermain dan bertanya.
saya juga senang bereksperimen *jiah*.
pernah suatu ketika saya melihat ibu saya yang sedang memotong bagian lengan salah satu kaus saya.
saat itulah diam-diam saya ingin mecoba menggunting baju seperti itu.
dengan PD tinggi,saya menggunting-gunting baju kesayangan saya. saking PD-nya, baju tersebut saya gunting hingga serpih-serpihan kecil.
begitu sadar baju tersebut sudah tidak layak bahkan untuk dijadikan lap, saya menyembunyikannya di dalam lemari. (nakal sekali, ya, saya)



Ayah saya begitu sayang pada saya dan kakak saya, hingga setiap malam beliau menceritakan dongeng-dongeng dengan aksen menarik, sebelum saya dan kakak saya terlelap.
saya masih mengingat dengan baik, dongeng yang saat itu kami minta ayah kami untuk menceritakannya berulang-ulang setiap malam, yaitu tentang kambing dan serigala. :D


Sekolah pertama saya adalah TK Kuncup Harapan Bogor.
masih terlalu aktif seperti dulu, saya mencoba untuk pulang sendiri berjalan kaki. hingga langkah saya terhenti di depan sebuah jalan raya lebar yang ramai kendaraan lalu lalang. akhirnya saya diantarkan 2 orang ibu-ibu yang kebetulan lewat, kembali ke sekolah.

kemudian, saya bersekolah di SD Papandayan 1 Bogor.
saat itu, saya merupakan anak yang terlalu berani, hingga setiap guru menawarkan jasa sukarela untuk tampil ke depan kelas baik untuk apapun, saya selalu maju paling awal.




waktu itu, saya selalu dianggap bernyanyi paling bagus di kelas, padahal itu hanya karena saya PD mengeluarkan suara saya sampai batas maksimum, sedangkan teman-teman saya tidak ada yang bersuara ketika bernyanyi di depan kelas.

kelas 5 SD, studi S2 kedua orang tua saya di Bogor selesai dan kami sekeluarga pindah kembali ke Lampung. berbeda dengan kakak perempuan saya yang merasa berat pindah kembali ke Lampung, saya yang dimusuhi teman sekelas tanpa sebab merasa senang dan excited pindah ke Lampung.
Di Lampung, saya bersekolah di SD Al-Kautsar, menjalani hari yang aman damai dan tentram dan lulus dengan nilai yang sangat baik.

seperti dulu, saya masih suka mendapat tawaran tampil di depan kelas. *cailah*.
pernah suatu hari saya menyanyikan lagu 'Ratu Sejagat' dengan akting terjatuh pada lirik: 'Akupun terjatuh... dari kursi goyang..."
teman sekelas saya terkejut semua mendengar suara jatuh saya yang sepertinya sakit sekali rasanya.
yah, jujur, memang rasanya sakit. T,T

lanjut ke SMP Al-Kautsar.
Di SMP, saya masuk ke kelas program unggulan dengan beasiswa 100% SPP karena alhamdulillah, saya HAMPIR tidak pernah luput dari peringkat 3 besar.
satu kali peringkat saya turun drastis ketika saya harus opname di rumah sakit karena untuk kedua kalinya mengidap penyakit demam berdarah.
sayapun lulus dengan nilai cukup baik, dan cukup memuaskan bagi saya.



dan sekarang, saya bersekolah di SMAN 2 Bandarlampung, sekolah yang disebut-sebut terbaik di Lampung, terdaftar sebagai murid kelas X RSBI 2.
saya bersekolah di SMANDA ini karena rekomendasi dari orang tua saya, yang kemudian menimbulkan keinginan tersendiri dalam diri saya.



meskipun kekecewaan kadang mendera saya di SMA ini, tapi secara keseluruhan saya betah-betah saja bersekolah di sini.
memang, persaingannya berat. tetapi memang itulah yang saya harapkan ketika mengisi formulir pendaftaran SMAN 2 Bandarlampung.

dan sekarang saya sedang duduk di depan monitor desktop di lab komputer SMANDA karena mendapat tugas membuat blog dari Bu Muji.

so, this is the blog!
enjoy~

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS